Hari ke-2 di Belitong

by eliabarasila

Sabtu, 28 Januari 2017.

pulau Kepayang

sementara menunggu kabar tentang kondisi cuaca di laut dari nakhoda kapal, kami berfoto-foto dulu di depan tulisan Welcome Belitong. 

Setelah foto foto di depan tulisan Belitong di pantai tanjung kelayang, kabar gembira datang, cuaca cukup bersahabat buat pergi berlayat ke P. Kepayang. Kami menaiki kapal. Tiap orang diwajibkan memakai pelampung untuk keselamatan. termasuk Queen cucuku masih berusia 2 tahun juga mendapatkan satu jaket pelampung.

Perasaan ini ngeri banget, meskipun bisa berenang dengan baik, membayangkan kami terbalik dan nyebur ke laut sungguh hal yg mengerikan, apalagi membawa cucuku yg terlihat cukup ketakutan. Berbeda dengan Najla yg memang berani. Teringat ketika ia berusia 2 tahun saat ulang tahun di resto di ancol kami kmd mencoba naik kapal, Najla terlihat gembira dan melompat lompat ketika di kapal. bahkan ia mencoba mencelupkan tangannya ke air laut ketika kapal sudah berjalan. kupikir kalau aku sendiri yang ikut di kapal itu, tidak akan seberapa ketakutanku, karena aku hanya sendiri dan bisa berenang pula.

Queen terlihat memeluk mommynya krn ketakutan.

dari kiri ke kanan: dr.Ferry, dr.Nandi, Najla, ayahnya Najla, dr. Nofiadi.

rencananya hari ini kami juga akan snorkling di Pulau Lengkuas, tapi sepertinya cuaca kurang bersahabat, hujan ! shg  air laut pun terlihat keruh, jadi buat snorkling kurang bagus. Tour guide kami menyarankan sebaiknya kalo ke Belitong pada bulan 3 sd 10, cuaca pada bulan-bulan itu paling baik. 

ketika di laut, ombak ada, tapi tidak begitu besar. tour guide mengatakan sebenarnya ini ombaknya kecil nyaris tanpa ombak. tapi segitu saja sudah ngeri, bukan krn ngeri di ayun ayun seperti naik kora-kora, tapi ngeri krn takut perahunya nanti terbalik krn ombak. Tapi tour guide kami mengatakan bahwa perahu seperti ini maksimal buat 30 orang. Nah, untuk safety, skrg hanya dinaiki oleh 10-15 orang. Dan di perahu kami memang  hanya 15 org.

wuiihhh, alhamdulillah, akhirnya sampai di P. Kepayang. Menapaki kaki di pasir pantainya, kami melihat sebuah restoran sederhana tanpa dinding, bangkunya pun hanya berupa bangku panjang. Dan memang menurut ku tidak perlu mewah, toh orang datang kesini cuman buat singgah bermain di pantai dan kemudian memgganjal perut setelah capek. 

Teh dan kopi boleh ambil sepuasnya disini, posisi meja teh dan kopi di taruh di tengah. sementara bangku dan meja di susun di sisi kiri dan kanannya. 

pertama kali kami disuguhi pisang goreng, kemudian singkong goreng sambil menunggu makan siang siap. 

Queenisha bermain di tepi pantai dengan mommy nya, aku mengikutinya. Qq duduk berselonjoran di atas pasir dengan membelakangi laut. punggungnya terkena hantaman ombak, ia tertawa tawa sambil menahan dingin. tak lama kemudian, mommy nya teriak, “sudah, sudah!”. “kenapa?” aku bertanya. Ini bund, jarinya pada biru kedinginan. “Ya sudah, angkat”. untung gadis kecil itu nurut. Langsung dibawa ke kamar mandi sama mommynya, dimandikan dan ganti pakaian.

sekitar jam setengah dua belas makan siang siap di atas meja. Menu laut tentunya, ikan panggang, cumi dan udang panggang. buat yang tidak makan seafood, disediakan ayam goreng. sedap lah pokoknya krn makanan juga disajikan panas panas. 

kondisi saat kami sampai masih hujan rintik rintik, tapi cuaca berubah dengan cepat, cuaca menjadi cerah dan ombak dikejauhan tidak terlihat besar lagi, ini ditandai dengan hilangnya buih buih putih yg menyertai ombak dikejauhan. itu berarti kita akan lanjut ke Pulau Lengkuas, melihat mercusuar.

Tetapi beberapa orang dokter memutuskan untuk kembali ke pulau Belitong, antara lain Dr. Nandi karena hari mau kembali ke jakarta, mau melihat anaknya bertanding. dr. Toto juga kembali, alasannya menemani dr. Nandi. dr. Febri dan kedua anaknya juga kembali, pokoknya ada 6 orang yg kembali ke  Belitong.

Aku menyempatkan diri untuk sholat Zuhur jama’dengan ashar, dan ku ajak Najla dan Abrar untuk sholat juga, sementara Amier dan ayahnya sudah sholat terlebih dahulu. Ayu lagi tdk sholat. Hasna tidak keburu sholat karena kita sudah harus berangkat naik perahu menuju Pulau Lengkuas. 

Menegangkan juga menaikinya, semua sudah naik  dengan pelampung terpasang di badan. penumpang kapal berkurang dua, dokter Nandi dan dr. Noviadi. Queenisha  langsung mengambil posisi memeluk mommy nya, ketakutan yg sangat, tapi pasrah karena mau tidak mau harus menaiki perahu tersebut.

MasyaAllah, ombaknya benar benar luar biasa buat ku, menghayun hayun kan kapal. May May si tour guide ketawa ketawa dan berkata “jangan malu malu untuk teriak!”. Aku tak bisa teriak, sebaliknya hanya diam, dan merapal doa dan istighfar serta salawat nabi. 

Ombak benar benar menghempas dan menghancurkan perahu. Aku benar benar takut perahu akan terbalik, tapi May May terus mentertawakan kami. 

akhirnya penderitaan ini berakhir juga, kami sampai di Pulau Lengkuas. Mercusuar tinggi terlihat sangat menjulang tinggi. Putih… menjulang. Menaikinya harus membayar tiket 50 ribu rupiah. 

pulau lengkuas : lihat mercusuar

Aku menemani Hasna sholat zuhur dan ashar di bagunanan di samping mercusuar tsb. bangunan dengan gaya kolonial belanda.

setelah Hasna sholat kami kemudian mengambil foto foto.Sebenarnyanaku ingin naik ke atas mercusuar, tapi krn hari mulai hujan lagi, tour Guide kami  mas Riyan dan Mas May may melarang, takut kesambar petir, krn bagian dalam mercusuat itu terdiri dari besi semua.

di Mercusuar, Pulau Lengkuas

Mercusuar, P. Lengkuas.

Hasna di P. Lengkuas 

Hasna & Abrar saling membantu untuk foto di dekat kolam bidadari

Abrar menunjuk mercusuar

hasna dan abrar foto memakai go pro di dekat kolam bidadari


menjelang sore sekitar jam 4 kami kembali ke pulau Belitong. 

Ternyata pada saat kembali, ombak tidak menghempaskan perahu kami. Hal ini disebabkan karena perahu searah dengan arah ombak. Ombak bahkan mendorong kita tampa menghempaskannya.

Tempat Shooting Laskar Pelangi.

Duh namanya apa ya tempat ini, nanti nanya lagi deh.

Advertisements